I think the WHOLE presentation file is broken…

- Gichie, in the middle of AFS/YES 2012-2013 Farewell Party, along with my shriek being strangled by Fikri. Fortunately, we do have a backup.

Tentang Pendapat dan Perspektif

Seminggu kemarin, lagi rame-ramenya mahasiswa ITB partisipasi di acara tahunan paling besar di Ganesha, sebuah ritual penyambutan mahasiswa baru yang panitianya seabrek-abrek, OSKM 2012. Seiring dengan itu, banyak pendapat yang beredar seperti ini, ini, dan ini, belum lagi yang ada di twitter dan milis himpunan. Seru sih, diskusi sehat, dan bagusnya, dari berbagai perspektif. Tapi kalau diambil kesimpulannya, sebenarnya hampir semua orang bertanya-tanya: apakah ada cara kaderisasi yang tidak harus seperti ini?

Dan gue dapat banyak pencerahan ketika gue bergabung menjadi panitia Orientasi Nasional AFS/YES 2012-2013 kemarin.

Mungkin gue belum banyak cerita, tapi cerita gue bisa kesini dan mengalami ini adalah hasil dari proses seleksi yang lumayan panjang, diselenggarakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya bekerja sama dengan AFS Intercultural Programs. Kedua organisasi ini adalah badan nonprofit, berbasis sukarelawan yang tujuannya memberikan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan pemahaman sebagai warga dunia (cieh). Alumni-alumninya antara lain Taufiq Ismail, Mario Teguh, Anies Baswedan sampai Najwa Shihab. Dan sampai sekarang gue volunteering di organisasi ini. Ah, dan kepanitiaan ini ada setiap tahunnya untuk memfasilitasi puluhan siswa dari 15 chapter se-Indonesia dalam pertukaran pelajar ke berbagai negara.

Dalam kepanitiaan ini, atau Orientasi, dimana selama seminggu mereka dibekali berbagai macam materi sebelum berangkat dan tinggal selama setahun di host country masing-masing, gue belajar dari awal lagi.

Bahwa untuk membuat kita menyadari sesuatu yang penting tidaklah harus memarahi. Bahwa untuk mendukung proses berpikir kritis, ada jutaan cara tanpa mesti menyuapi. Bahwa untuk membangun rasa kebersamaan, sepatutnya dimulai dengan hati. Dan terlebih lagi, karena basisnya sukarela (baca: tanpa gaji), semuanya harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa beban.

Dan kalau berbicara kaderisasi, mungkin peruntukannya beda, tapi esensinya sama. Daripada ngelabrak mahasiswa baru karena nyolot, mungkin mestinya kita belajar juga buat managing expectation. Atau daripada ngebentak-bentak pakai kata-kata provokatif (yang hanya Tuhan yang tahu ada yang tersinggung apa enggak), mungkin semestinya kita belajar cara mass communication yang jauh lebih efektif. Inspirasi dan teror sama-sama bertujuan memberi pesan, membangkitkan motivasi untuk bergerak, dari dalam dan luar. Namun untuk menanamkan nilai-nilai yang noble seperti dalam gerakan kemahasiswaan, striking terror or injecting perpetual euphoria won’t last that long. Susah sih, tapi jelas worth doing.

Tapi itu hanya satu skenario. Kaderisasi dan berbagai program sejenis boot camp dalam lingkup akademis lainnya, setahu gue, pada intinya adalah membuat penyuasanaan dan meminimalkan interaksi informal agar pesertanya fokus pada proses yang sedang berjalan. Di lapangan yang cenderung dinamis, fokus seringkali hilang di tengah proses. Biasanya untuk mengamplifikasi penyuasanaan, digunakanlah pekik-pekik dan poster-poster propaganda nan dramatis agar pesertanya juga tergugah untuk berpikir kritis dan memaknai prosesnya. Agak keras sedikit, menurut gue nggak masalah selama tidak ada keterlibatan kontak fisik. Anggaplah sebagai salah satu fase hidup, pernah mengalami yang seperti ini.

Di SBM, untungnya di tahun pertama mahasiswanya banyak diajari kurikulum liberal arts, mengikuti model MIT School of Management. Ada mata kuliah teater, komunikasi sampai antropologi. Mungkin ini juga salah satu motivasinya kenapa gue pengen banget nyoba metode kaderisasi yang berbeda.

Tapi posisi SBM disini, beserta himpunan KMSBM, terasa amat ambivalen. Berada dalam lingkungan ITB, tentunya membuat kami terekspos pada budaya kampus, dan pendidikan kemahasiswaan yang sudah menjadi tradisi dan teruji selama berdekade-dekade lamanya. Sebuah proses kaderisasi jangka panjang, yang dimulai dari PROKM (dan berbagai versinya) tiap tahun ajaran baru. Tapi sekolah ini bahkan belum berusia satu dekade, bisa dibilang masih mereka-reka arahnya. SBM dibuat atas dasar perkembangan zaman, dan ada sebagai pelengkap trimatra perguruan tinggi ITB. Meminjam kata Pak Surna Tjahjadiningrat, salah satu pendirinya, SBM diharapkan bisa menjadi katalis buat bikin ITB jadi lebih baik. Tentunya, jika melihat fakultas lain, kultur latihan fisik dan sederet pelengkapnya tidak akan relevan buat diaplikasikan di SBM, toh, nantinya bidang kerja lulusannya tidak memerlukan pelatihan tersebut. Sebenarnya, jalan tengah sangat memungkinkan untuk diambil. Bagian yang sesuai untuk SBM dari kemahasiswaan terpusat ITB bisa digabung dengan berbagai materi liberal arts yang didapat selama tahun pertama. Di atas kertas, mestinya ini bisa jadi metode ideal. Tapi kembali pada problema kaderisasi yang paling klasik: apa parameter berhasil tidaknya kaderisasi, dan bagaimana cara mengukurnya?

Misalkan jalan tengah tadi bisa dijalankan, ini adalah proses yang harus dimulai from a scratch, oleh banyak orang bervisi sama, dan bukan dalam proses instan.

Hal-hal Yang Tidak Usah Dipikirkan Tapi Entah Kenapa Kepikiran

Kalau Zooey Deschanel lahir di Bandung, apakah namanya akan menjadi Zooeuy Deschanel?

Jangan-jangan cinta itu sama seperti hukuman mati. Ada dua kemungkinan: bisa ditembak, bisa digantung.

Rasio genetik buta warna lebih tinggi pada pria. Mungkin itu sebabnya pria senang lihat yang bening-bening.

Kenapa celana diatas paha itu disebut hot pants, kan kalau dipake dingin?

Wanita, wanita, wanita. Kebanyakan wanita sering berkata bahwa mereka tidaklah seperti kebanyakan wanita.

Apakah salah jika kita jalan-jalan ke Seaworld bawa buku resep masakan seafood? Atau ke Taman Safari pake jaket animal print?

Kalau tomat itu dikategorikan sebagai buah, berarti saus tomat tuh jus dong? Atau smoothie?

Jangan banyak ngeprint kertas, biar peduli lingkungan. Terus kita ganti e-book. Tapi baca e-book kan pake listrik… jadi kapan hemat energi?

Dan kalau kemacetan bisa jadi parameter kemajuan suatu kota, berarti Bandung ini majunya pesat banget. Terima kasih buat Bapak Dada Rosada yang sudah melakukan pemerataan kemacetan di seluruh Bandung.

Sepertinya Jakarta Lawyers Club itu acara yang satu genre sama sinetron laga Indosiar dan Stand Up Comedy. Kocaknya pol.

Dan, ah! Bicara tentang Karni Ilyas, sepertinya beliau bisa alih profesi menjadi pengisi suara Doraemon.

Kenapa di Indonesia nggak ada Front Pembela Islam, Kristen, Hindu dan Buddha ya?

Biar gak jerawatan katanya jangan makan yang mengandung coklat, gula dan minyak. Nah, tapi kalau jadinya stres gara-gara gak bisa makan itu bukannya malah jadi jerawatan juga ya?

Zaman sekarang, semua orang bisa dicari di Google. Tapi kalau gak ada… apa karena safe search-nya on?

Makan sosis tidak serta-merta membuat kita jadi pintar, atau jago main bola, apalagi nari homo. Khususnya sosis instan.

Coba aja kuliah isinya Pengantar Ilmu Move On, Dasar-dasar Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, dan Tata Tulis Karya Gombalan. Masing-masing 4 SKS, cum laude dah.

Kayaknya buat strategi marketing restoran zaman sekarang lebih ampuh masarin banyaknya colokan deh dibanding wi-fi sebagai unique selling point-nya.

Coba liat Squidward di Spongebob Squarepants deh. Tiap hari gak pernah pake celana, tapi kalau mandi pake handuk. Itu, apa itu faedah hidupnya?

Sebenernya kalau dibilang gaya hidup gue gak sehat gara-gara jarang makan sayur, sebenernya gue sering kok makan kentang goreng…

Orang pintar minum tolak angin. Orang jenius pake jaket.

“Lo bayangin deh kacaunya entar pas kiamat, terus seorang messiah turun. Umat Islam bakal bilang itu Isa, Kristen bakal bilang itu Yesus, Hindu bakal bilang itu Kalki, avatar ke-10, juga Buddha bakal bilang itu Maitreya. Belum lagi kepercayaan-kepercayaan lainnya, bakal chaotic banget”

Sutansyah Marahakim – Gegedug @majalahepik, dalam sebuah perbincangan absurd.