Memanusiakan Manusia

Tadi siang, pelajaran matematika lagi ngebahas limit.

Ya, masalah tak hingga, mendekati, fungsi, juga positif dan negatif (dan ya, dari pelajaran eksak macam ini cuma informasi linguistik yang gue tangkap. Huh.)

Dari pembahasan selama 90 menit tadi, cuma ada dua kata yang terngiang-ngiang terus di kepala gue. Positif, dan negatif. Karena nampaknya dua hal itu lagi berhubungan erat banget sama gue.

Setiap hal diciptakan masing-masing punya antitesis. Salah dan benar. Gelap dan terang. Hitam dan putih. Positif dan negatif. Dua hal yang ada karena satu sama lain, dan tidak saling menihilkan. Dunia bisa membentuk sesuatu yang benar karena melihat pernah ada kesalahan terjadi. Terang bisa membuat sesuatu yang besar melekatkan bayangan gelap dibaliknya. Hitam adalah rupa final setelah semua warna dikonsentrasikan, dimana putih adalah awal dimana warna didispersikan.

Kausa dan efek yang ironisnya bergumul dalam waktu yang abadi.

Seperti manusia. Manusia adalah tempat dimana pergumulan abadi itu ada, sisi positif dan negatif. Dimana keduanya ada secara bersamaan. Nggak heran manusia itu makhluk yang rapuh. Diombang-ambing dua hal kontras.

Manusia mengejar kesempurnaan. Manusia adalah utopis, berharap tempat dan kondisi dimana segalanya sempurna, berjalan selaras.

Maka buat gue, menjadi manusia yang sempurna, dan menjalani hidup yang sempurna pula, bukan berarti berjalan di dunia tanpa cacat. Menjadi sempurna adalah karena kita mempunyai kedua sisi kontras itu, positif dan negatif, bukannya berpikir salah satunya yang baik untuk kita.

Gue, dan semua orang di luar sana adalah gabungan positif dan negatif. Dan jelas nggak mungkin positif dinegatifkan, begitupun sebaliknya. Jadi hiduplah juga dengan kenegatifan kita.

Itulah mengapa kita disebut manusia.

Dan menghargai semua kenegatifan kita (kesalahan, kegagalan, kesialan) juga manusiawi.

P.S: Strongly influenced by Samuel Mulia & Joko Anwar, two of the most creative person I’ve ever known.

Advertisements

3 thoughts on “Memanusiakan Manusia

  1. Pingback: Menghargai Kenegatifan Diri?? *thinking then…* « just rina…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s